Rabu, 13 Desember 2017

MODUL MANAJEMEN OPERASI DAN PRODUKSI

PENENTUAN UPAH DI PASAR TENAGA KERJA


 MODUL MANAJEMEN OPERASI DAN PRODUKSI

PERENCANAAN FASILITAS



Perencanaan fasilitas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah perusahaan beroperasi. Perencanaan fasilitas mempunyai subjek luas dan dapat diterapkan dalam berbagai jenis bidang, misalnya untuk perencanaan suatu produk baru, perkantoran, penambahan bagian pada suatu Rumah Sakit, atau perluasan ruang tunggu di Bandara yang akan digunakan untuk melaksanakan proses produksi atau transformasi.
Secara umum, tujuan perencanaan fasilitas sebagai berikut:
1.    Menunjang tujuan organisasi melalui peningkatan material handling (pengiriman bahan baku) dan penyimpanan.
2.    Menggunakan tenaga kerja, peralatan, ruang, dan energi secara efektif.
3.    Meminimalkan investasi modal.
4.    Mempermudah pemeliharaan.
5.    Meningkatkan keselamatan dan kepuasan kerja.

Aktivitas PERENCANAAN FASILITAS, dapat dibagi dalam beberapa fasilitas:

a.   Perencanaan lokasi usaha.

b.   Perencanaan tata letak (layout) tempat usaha.
c.   Perencanaan system material handling.
Menurut Tompkins dapat digambarkan dalam bentuk daur hidup fasilitas sbb:
1.    Fase I
Tetapkan tujuan dari fasilitas
2.    Fase II
Tentukan kegiatan utama dan penunjang yang diperlukan dalam mencapai tujuan.
Tentukan hubungan antarsemua kegiatan.
Tentukan kebutuhan ruangan untuk semua kegiatan.
Susun alternatif dari rencana fasilitas.
Evaluasi alternatif itu.
Pilih alternatif rencana fasilitas terbaik.
3.    Fase III
Terapkan rencana fasilitas tersebut.
Pelihara dan sesuaikan dengan keadaan
Kembali ke langkah 1

TUJUAN dari aktivitas perencanaan fasilitas ini adalah :

a.   Mengoptimalkan material handling & penyimpanan. Fasilitas produksi yang direncanakan  dengan  baik,  akan  memudahkan  arus  lalu  lintas  material  dari gudang ke tempat produksi, dari satu departemen ke departemen lainnya.
b.   Menggunakan sumber daya secara optimal. Seringkali perusahaan dihadapkan pada terbatasnya fasilitas produksi yang dimiliki, seperti terbatasnya lahan produksi, terbatasnya jumlah ruangan dan mesin-mesin, dll. Dengan perencanaan yang baik, kesulitas produksi akibat keterbatasan itu dapat dikurangi.
c.   Meminimalkan investasi. Dengan optimalnya perencanaan fasilitas yang ada, maka berbagai pengeluaran dan investas dapat dikurangi. Sebagai contoh, perusahaan tidak perlu lagi menambah lahan atau jumlah bangunan, karena atau jumlah bangunan yang ada dapat dioptimalkan
d.   Mempermudah pemeliharaan. Pemilihan dan penataan fasilitas produksi yang baik tentunya akan memudahkan pemeliharaan, seperti jarak antar mesin yang cukup baik, posisi mesin dan bangunan, dst.
e.   Meningkatan keselamatan & kepuasan kerja. Fasilitas produksi yang tertata rapi tentunya akan membawa dampak bagi keselamatan dan kepuasan kerja. Sebagai  contoh,  tersedianya  ruang  lapang  antar  gedung,  ventilasi  udara  dan penerangan   yang   cukup   akan   membuat   pekerja   merasa   nyaman   dalam menjalankan aktivitas produksinya.


A. PERENCANAAN LOKASI USAHA

Perencanaan fasilitas yang pertama berkaitan dengan perencanaan dan penentuan lokasi usaha. Perencanaan dan pertimbangan penentuan lokasi usaha untuk usaha baru dan perluasan usaha, akan berbeda. Untuk perusahaan yang baru pertama kali berdiri , tujuan dari perencanaan lokasi adalah :
a.   Agar dapat melayani konsumen dengan baik. Tempat usaha yang strategis tentunya akan memudahkan perusahaan baru mendapatkan dan selanjutnya mempertahankan konsumennya. Tempat usaha yang baik, mudah ditemukan dan dijangkau tentu akan menarik bagi konsumen.
b.   Untuk   mendapatkan   bahan   baku   yang   baik   &   kontinyu.   Seringkali perusahaan harus memilih lokasi usaha di daerah dimana bahan baku produksi mudah  diperoleh.  Baik  untuk  mengantisipasi  mudah  rusaknya  bahan  baku, ataupun kesulitas angkut bahan baku tersebut. Contoh : Perusahaan pengalengan ikan, perusahaan minuman, dan sejenisnya.
c.   Untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik. Selain bahan baku, pertimbangan lainnya adalah kemudahan dalam mendapatkan sumber daya manusia yang akan menjadi karyawan atau pekerja. Perusahaan padat karya seperti perusahaan rokok, perusahaan garmen, tentu akan memilih lokasi usaha yang padat penduduk guna mendapatkan SDM yang cukup.
d.   Untuk keperluan usaha di kemudian hari. Antisipasi terhadap berkembangnya perusahaan juga perlu diperhatikan. Jangan sampai perusahaan mengalami kesulitan dalam memperluas usahanya dikarenakan tidak ada lagi lahan kosong di kiri, kanan, belakan, atau depan (sekitar) lokasi usaha saat ini. Sempitnya lahan usaha dapat diantisipasi dengan merencanakan pondasi untuk keperluan bangunan bertingkat, yang dapat ditambah, sewaktu-waktu dibutuhkan tambahan ruangan.
e.   Agar  operasi  perusahaan  dapat  berjalan  dengan  optimal.  Semua  alasan tersebut di atas dimaksudkan akan proses produksi lacar, tidak terganggu oleh masalah  kekurangan  bahan  baku,  kekurangan  tenaga  kerja,  sampai  dengan kesulitas menambah kapasitas produksi di kemudian hari.
f.    Menyesuaikan   kemampuan   perusahaan.   Aspek   lain   yang   tidak   kalah pentingnya adalah masalah kemampuan perusahaan saat ini dan di kemudian hari. Penentuan lokasi usaha seringkali dipengaruhui juga oleh tersedianya dana perusahaan. Lokasi yang diinginkan tidak selamanya sesuai dengan dana yang tersedia, karena lokasi usaha yang baik/strategis biasanya menuntut investasi yang besar/mahal juga.

Sedangkan  bagi  perusahaan  yang  telah  beroperasi  sebelumnya,  tujuan  atau  alasan perencanaan lokasi adalah :
a.   Berpindahnya pusat kegiatan bisnis. Seperti kita ketahui, bahwa pusat bisnis merupakan salah satu pasar yang paling potensial bagai perusahaan. Di pusat bisnislah banyak transaksi akan terjadi, dan di pusat bisnislah peredaran uang sangat besar, sehingga perusahaan harus mengikuti di mana pusat bisnis itu berlangsung.
b.   Berubahnya  adat  kebiasaan  masyarakat.  Seiring  dengan  waktu,  seringkali diikuti dengan perubahan adat atau kebiasaan masyarakat, tempat di mana perusahaan   saat   ini   beroperasi.   Sebagai   contoh,   sebuah   lingkungan   yang berangsur-angsur ditempati oleh masyarakat yang mayoritas muslim misalnya, tentu akan mendorong pengusaha peternak atau restoran yang menyediakan masakan dari binatang babi untuk memindahkan lokasi usahanya.
c.   Berpindahnya konsentrasi perumahan. Selain perumahan masyarakat identik dengan tersedianya pasar, perumahan tersebut juga identik dengan semakin menyempitnya  lahan dan tuntutan-tuntutan  dari penghuni perumahan  tersebut. Sebagai contoh, sebuah peternakan ayam yang terletak ditengah-tengan sawah, mungkin 10 tahun kemudian harus memindahkan usahanya karena tuntutan dari penduduk sekitar karena sawah telah berubah menjadi perumahan padat dan keberadaan   peternakan   tersebut   dianggap   mengganggu   ?   Adilkah   kalau peternakan yang harus mengalah dan pindah lokasi ?
d.   Adanya sarana prasarana yang lebih baik. Operasi perusahaan membutuhkan sarana dan prasarana seperti akses jalan, listrik, air bersih, telekomunikasi, dll., yang baik. Memburuknya sarana prasarana tersebut di lokasi usaha saat ini tentu akan mendorong perusahaan untuk mencari lokasi usaha yang lebih baik.
e.   Untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pemindahan lokasi usaha juga sering dilakukan sebagai akibat dari berkembangnya usaha perusahaan, sementara lokasi usahaan saat sudah tidak mampu lagi menampung aktivitas perusahaan. Untuk menghindari terjadinya ‘opportunity cost’, perusahaan kemudian mencari lokasi usaha yang lebih layak untuk menampung perkembangan usaha yang terjadi.
f.    Peraturan pemerintah. Salah satu faktor yang seringkali tidak dapat dihindari adalah adanya peraturan pemerintah yang menghendaki perusahaan memindahkan lokasi usahanya, karena misalnya alasan pelebaran jalan, pembuatan jalur hijau, dan kebijakan penataan kota lainnya.
g.   Persaingan yang ketat. Meskipun tidak semua usaha menghindari persaingan, namun  persaingan  yang  terlalu  ketat  dan  berat,  juga  sering  menjadi  alasan mengapa sebuah perusahaan memindahkan lokasi usahanya, guna mendapatkan pasar yang lebih mudah (karena persaingannya belum ketat).
h.   Sebab-sebab lain. Yang dimaksud di sini misalnya terjadinya bencana alam yang memaksa perusahaan memindahkan lokasi usahanya.


Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan penentuan lokasi adalah:

1.   Letak pasar. Faktor ini sangat penting, khususnya bagi perusahaan jasa (bank, restoran, toko, jasa konsultan, dll) atau manufaktur (meskipun jarang jarang) yang memang memiliki karakteristik dekat dengan pasar. Coba perhatikan di dalam kehidupan sehari-hari kita ? Benarkah perusahaan jasa yang umumnya didirikan di tempat atau lokasi yang dekat dengan pasar ?
2.   Bahan baku. Berbeda dengan perusahaan jasa, perusahaan manufaktur umumnya didirikan di lokasi yang dekat dengan bahan baku (Perusahaan pengolahan kayu, miniman, makanan, dll). Dilihat dari tingkat kebutuhan (necessity) dan tingkat ketahanan rusak (perishability).
3. Tenaga kerja. Ketersediaan tenaga kerja juga menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi usaha, terutama bagi perusahaan manufaktur yang umumnya banyak membutuhkan banyak tenaga kerja dalam proses produksinya. Tenaga kerja digolongkan 2 kelompok: TK dg kemampuan tinggi (skilled worked) danTK dg kemampuan rendah (low skilled worker).
4.   Masyarakat.  Masyarakat  merupakan  faktor  penting  dalam  penentuan  lokasi usaha mengingat keberadaan perusahaan disamping dapat memberi manfaat tapi juga bisa menimbulkan  kerugian bagi masyarakat, di sekitar usaha khusunya. Oleh  karena itu  penerimaan  masyarakat  akan  keberadaan  perusahaan  menjadi sangat penting. Sebagai contoh, perusahaan yang mempekerjakan masyarakat sekitar biasanya tidak mengalami masalah ini, namun perusahaan yang mengolah sampah atau limbah seringkali ditolak keberadaannya oleh masyarakat sekitar.
5.   Peraturan Pemerintah. Pemerintah selama ini telah menentukan mana kawasan untuk pemukiman dan mana untuk industri. Dengan demikian perusahaan tidak dapat atau akan mengalami kesulitas bila memilih lokasi yang bukan untuk kawasan industri. Termasuk juga di sini masalah ijin mendirikan bangunan, ketinggian maksimal bangunan, pembauangan limbah, dan kebijakan pemerintah lainnya.
6.   Listrik, air, telepon. Sarana pendukung ini tidak dapat diabaikan, karena hampir setiap aktivitas perusahaan membutuhkan listrik, air, dan alat komunikasi.
7.   Transportasi. Faktor ini juga penting, karena dengan transportasi ini bahan baku didatangkan dan bahan jadi akan dikirim. Terabaikannya masalah transportasi akan menimbulkan kesulitas produksi (karena keterlambatan pengiriman bahan baku misalnya) dan tersendatnya distribusi hasil produksi ke pasar. Misalnya kereta api, angkutan jalan raya, angkutan air, dan angkutan udara.
8. Sarana prasarana pendukung. Ketersediaan lahan parkir yang memadai,  pembuangan limbah, keamanan, fasilitas kesehatan kerja, merupakan faktor yang juga tidakkalah pentingnya di dalam penentuan lokasi usaha.


METODE-METODE PEMILIHAN LOKASI



Meskipun tidak semua perusahaan menyadari dan menggunakannya, beberapa metode ilmiah yang biasanya dipergunakan untuk perencanaan dan penentuan lokasi usaha diantaranyan adalah:
1.   Metode Factor Rating

2.   Metode Nilai Ideal

3.   Metode Analisis Ekonomi

4.   Metode Analisis Volume Biaya

5.   Metode Pusat Grafiti (Grid)

6.   Metode Transportasi



1.   Metode Factor Rating

Penentuan lokasi usaha dengan metode ini dilakukan dengan beberapa langkah sebagai berikut :
Pertama, menentukan dan mengurutkan faktor-faktor yang diperkirakan akan mempengaruhi aktivitas perusahaan nantinya.
Kedua, setelah faktor-faktor tersebut diberikan bobot sesuai dengan tingkat kepentingannya. Semakin penting pengaruh faktor tersebut pada operasional perusahaan, semakin besar bobot yang harus diberikan. Perlu diingat bahwa total bobot dari keseluruhan faktor haruslah 100%.
Ketiga,  tentukan  beberapa  lokasi  alternatif  usaha,  selanjutnya  bandingkan  beberapa alternatif lokasi tersebut dengan mengacu pada faktor yang telah ditentukan sebelumnya Keempat, menganalisis kemungkinan dampak setiap faktor pada masing-masing lokasi alternatif. Lokasi yang lebih baik kondisinya untuk setiap faktor akan diberikan nilai yang lebih tinggi. Sebagai contoh dalam tabel di bawah, untuk faktor pasar, ternyata lokasi 1 lebih baik dari lokasi 2, sehingga nilainya diberi lebih tinggi.
Kelima, Setelah semua faktor dibandingkan dan semua lokasi memiliki nilai, kalikan masing-masing nilai dalam setiap lokasi dengan bobotnya, dan selanjutnya dijumlah ke bawah. Lokasi yang memiliki nilai total tertinggi akan dipilih menjadi lokasi usaha perusahaan.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh penggunaan metode Factor Rating berikut ini :



Faktor
Bobot
Lokasi 1 (Bogor)
Lokasi 2 (Bekasi)


Nilai
B  x  N
Nilai
B  x  N
Pasar
25
100
25
80
20
Bahan baku
20
90
18
100
20
Tenaga kerja
20
100
20
90
18
Listrik, air
15
100
15
80
12
Telepon
10
60
6
100
10
Transportasi
5
80
4
100
5
Perluasan
5
100
5
100
5
Jumlah
100

93

90


Dari contoh perhitungan di atas, lokasi 1 Bogor lebih baik, karena memiliki nilai total yang lebih baik (nilai 93) dibanding dengan lokasi 2 (nilai 90).


2.   Metode Analisis Nilai Ideal

Secara umum penggunaan metode ini mirip dengan metode 1, hanya menggunakan bobot untuk membedakan berbagai alternatif lokasi yang akan dipilih. Lokasi dengan total jumlah bobot yang terbesarlah yang akan dipilih sebagai lokasi usaha.



Faktor
Nilai Ideal
Lokasi 1 Bogor
Lokasi 2 Bekasi


B 
B 
Pasar
25
25
20
Bahan baku
20
18
20
Tenaga kerja
20
20
18
Listrik, air
15
15
12
Telepon
10
6
10
Transportasi
5
4
5
Perluasan
5
5
5
Jumlah
100
93
90


Terlihat bahwa cara ini memberikan hasil yang tidak berbeda dg metode factor rating dan lebih simpel.


3.   Metode Analisis Ekonomi

Sesuai dengan namanya, dalam menentukan lokasi usaha, yang pertama metode ini akan membandingkan besaran beberapa kompenen biaya untuk setiap alternatif lokasi usaha. Sebagai contoh, untuk masalah tenaga kerja, lokasi manakah yang memberikan perkiraan biaya paling murah, begitu pula untuk komponen biaya lainnya. Lokasi yang memberikan total biaya paling kecil akan dipilih sebagai olkasi usaha. Namun demikian tetap harus mempertimbangkan jenis dan karakteristik usaha masing-masing perusahaan. Bagi perusahaan rokok yang umumnya padat karyawan, tentunya akan mencari lokasi yang komponen biaya tenaga kerjanya paling murah, karena komponen inilah yang paling penting. Sehingga bisa saja lokasi tersebut secara total biaya bukan yang paling murah, namun tetap dipilih, karena pertimbangan tenaga kerja tersebut.


Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh penggunakaan metode ini :

Faktor Biaya
Lokasi 1
L 2
L 3
L 4
B. Tenaga Kerja
380
397
422
452
B. Transportasi
98
90
88
72
B. Umum & Adm
37
27
33
32
B. Bahan Baku
17
12
11
18
Total
532
526
554
574


Apabila hanya memperhatikan total biaya yang diperlukan, maka lokasi 2-lah yang terpilih, namun sekali lagi, penentuan lokasi yang dipilih, sangat tergantung dari tipe produksi yang dilaksanakan dan faktor apa yang menjadi prioritas tipe produksi tersebut.

Metode  di  atas  biasanya  dikombinasi  dengan  beberapa  penilaian  secara  kualitatif beberapa faktor berikut ini.

Faktor Non Biaya
Lokasi 1
2
3
4
Sikap Masyarakat
BS
BS
B
BS
Fasilitas Transport
BS
B
B
BS
Keamanan
KS
BS
BS
C
Serikat Buruh
B
B
BS
K
Fasilitas Perumahan
BS
B
BS
B
Fasilitas Kesehatan
B
BS
C
BS
Fasilitas Pendidikan
BS
BS
B
B
Sarana Sosial
C
BS
B
BS
Peraturan Daerah
BS
BS
BS
B
Sumber Air
K
B
BS
BS


BS
:  Baik Sekali (5)
C     : Cukup (3)
KS  : Kurang Sekali (1)
B
: Baik (4)
K   : Kurang (2)



Dengan  demikian,  bisa  saja  pilihan  lokasi  usaha  jatuh  pada  alternatif  lokasi  yang meskipun secara ekonomi bukan termurah, namun faktor kualitatifnya memiliki nilai yang bagus.


4.   Metode Analisis Volume Biaya


Metode ini sangat tergantung dari besar kecilnya volume produksi yang akan dihasilkan yang secara ekonomi, akan berdampak pada biaya produksi variabelnya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini :

Lokasi
Bi. Tetap
Bi. Variabel
Total Biaya
1
320.000
15 (10.000 unit)
470.000

2
250.000
20 (10.000 unit)
450.000
3
200.000
30 (10.000 unit)
500.000


Bila hanya memperhatikan contoh pada tabel di atas, di mana volume produksinya hanya 10.000 unit, maka lokasi terbaik untuk usaha adalah lokasi ke-2, namun bila angka-angka produksi tersebut digunakan untuk menggambar biaya produksi di masing-masing lokasi, maka keputusan penentuan lokasinya akan berbeda untuk volume produksi yang berbeda. Perhatikan gambar berikut dengan cara mengubah- ubah beberapa alternatif volume produksi (dengan biaya tetap dan variabel seperti terdapat di tabel atas, maka gambar biaya produksi untuk masing-masing alternatif lokasi usaha dapat dibuat seperti terlihat pada gambar di atas.





















Perhatikan, bahwa ketika volume produksi sebesar 0 sampai dengan 5000 (5), maka lokasi terbaik dan termurah adalah lokasi 3 (garis paling bawah). Selanjutnya, apabila volume  produksi perusahaan  mencapai  5000  hingga  14.000,  lokasi  terbaik  untuk perusahaan adalah di lokasi 2, dan apabila volume produksi lebih dari 14.000,- maka lokasi usaha terbaik adalah lokasi 1.

5.   Metode Pusat Grafiti (Grid)

Metode  ini  dipakai  untuk  menentukan  lokasi  usaha  dengan  memanfaatkan  lokasi geografis dari pasar yang dimiliki. Langkah-langkah umum yang diperlukan dalam penggunaan metode ini adalah :

Pertama, tentukan pasar-pasar yang akan dilayani dan tentukan nilai kebutuhan dari masing-masing pasar tersebut
Kedua, cari koordinat pasar yang akan dilayani tersebut di peta geografis

Ketiga, masukkan data kebutuhan dan koordinat pasar tujuan tadi dalam formulasi di bawah ini untuk mendapatkan koordinat lokasi usaha.


Formulasi Koordinat Lokasi Usaha yang Optimal adalah :






Xi . Vi                                    Yi . Vi
X         = ------------                Y         = --------------- Vi                                             Vi


Dimana :

Vi       : Kebutuhan Produk Di Suatu Lokasi

Xi       : Koordinat Suatu Tempat Pada Sumbu X Yi       : Koordinat Suatu Tempat Pada Sumbu Y


Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut ini : Misal, kebutuhan di kota A, B, C, D, adalah 20, 30, 15, dan 10 unit. Koordinat kota-kota tersebut :





















Dari data dan peta di atas, dapat dihitung koordinat lokasi usaha yang sebaiknya dipilih, yakni :




Xi . Vi

10(20) + 18(30) +30(15) + 22(10)
X
=  -------------------
Vi
=
-----------------------------------------------------   = 18.8o
20 + 30 + 15 + 10

Yi . Vi                          12(20) + 6(30) + 18(15) + 24(10)
Y         =  ------------------       =   -----------------------------------------------------  = 12.4o
Vi                                           20 + 30 + 15 + 10


Jadi lokasi yang disarankan terletak di daerah dengan koordinat 18,8o  dan 12,4o  (tanda bintang, dekat kota/pasar D).

6.   Metode Transportasi


Metode   ini   menjelaskan   penentuan   lokasi   usaha   dengan   memanfaatkan   alokasi pengiriman yang paling optimal dari lokasi usaha yang akan didirikan, menuju pasar yang akan dituju, dengan bantuan metode transportasi. Seperti  telah  diketahui  (perhatikan  bab  Transportasi pada  mata  kuliah  Riset  Operasi sebelumnya), dalam masalah transportasi, secara umum penyelesaian masalah dilakukan dengan dua tahap, yakni :

Tahap 1, dengan penyelesaian awal, dimana metode yang dapat digunakan adalah : Metode NWC (North West Corner)
Metode LC (Least Cost)

Metode VAM (Vogel Aproximation Method) Metode RAM (Russel Aproximation Method)


Tahap 2, Penyelesaian akhir, dengan metode : Stepping Stone
MODI (Modified Distribution)


Metode  MODI  sebenarnya  merupakan  modifikasi  dari  metode  Stepping  Stone  yang sudah ada sebelumnya.
Namun demikian, langkah kedua akan digunakan penuh apabila dalam langkah pertama

(penyelesaian awal), masalahnya belum dapat dioptimalka.

Untuk mendapatkan gambaran dari masalah ini, perhatikan contoh berikut ini.


Sebuah perusahaan saat ini beoperasi dengan 3 buah pabrik yang memiliki kapasitas masing-masing sebagai berikut :


Pabrik
Kapsitas produksi tiap bulan
Pabrik 1
Pabrik 2
Pabrik 3
90 ton
60 ton
50 ton
Total
200 ton

Saat  ini  ada  kebutuhan  dari  tiga  kota  besar  yang  harus  dipenuhi,  dengan  besaran permintaan masing-masing kota :
Kota
Kapsitas produksi tiap bulan
A B C
50 ton
110 ton
40 ton
Total
200 ton

Perhatikan ! bahwa antara kapasitas pabrik/sumber daya perusahaan dan kebutuhan masing-masing  kota  adalah  sama,  yakni  sebesar  200  ton.  Apabila  dijumpai  kasus semacam ini, maka kasus yang sedang dihadapi adalah normal.


Perkiraan biaya transportasi dari setiap pabrik ke masing-masing kota adalah :



Dari pabrik 1 ke kota A = 20             Dari pabrik 3 ke kota A = 25

Dari pabrik 1 ke kota B = 5                Dari pabrik 3 ke kota A = 10

Dari pabrik 1 ke kota C = 8                Dari pabrik 3 ke kota A = 19

Dari pabrik 2 ke kota A = 15

Dari pabrik 2 ke kota B = 20

Dari pabrik 2 ke kota C = 10



Pertanyaannya adalah :

1.   Bagaimana distribusi sumber daya atau kapasitas perusahaan yang paling optimal, guna memenuhi kebutuhan dari ketiga kota besar tersebut ?
2.   Berapakan   total   biaya   optimal   yang   harus  dikeluarkan   perusahaan   dalam memenuhi kebutuhan ketiga kota tersebut ?


Jawab :

Untuk menyelesaikan  masalah  tersebut di atas dan apabila  dikaitkan  dengan metode penyelesaian yang dapat digunakan, maka kemungkinan kombinasi metode yang digunakan adalah sebagai berikut :




Alternatif
Kombinasi metode yang dapat digunakan

1
2
3
4
5
6
7
8

NWC – Stepping Stone LC – Stepping Stone VAM – Stepping Stone Russel – Stepping Stone NWC – MODI
LC – MODI VAM MODI Russel MODI

Penggunaan alternatif di atas hanya dapat digunakan apabila dalam penyelesaian awal, hasil optimal belum ditemukan.
Dengan alternatif berapapun ( 1 s.d. 8), hasil optimal yang diperoleh adalah (Langkah- langkah untuk mendapatkan hasil optimal ini, silahkan lihat catatan bab transportasi mata kuliah OR sebelumnya), :

Ke- Dari

Kota A

Kota B

Kota C

Kapasitas

Pabrik 1

20

5

8

90

60
30

Pabrik 2

15

20

10

60
50

10

Pabrik 3

25

10

19

50

50


Kebutuhan

50

110

40

200

Pengujian

Sel C11
= 20 – 8 + 10 – 15
= 7  (menjadi lebih mahal 7/ton)
Sel C22
= 20 – 5 + 8 – 10
= 13   (menjadi lebih mahal 13/ton)
Sel C31
= 25 – 15 + 10 – 8 + 5 - 10
= 7  (lebih mahal 7/ton)
Sel C33
= 19 – 10 + 5 – 8
= 6 (menjadi lebih mahal 6/ton)


Dari hasil pengujian tersebut, ternyata semua sel sudah tidak ada yang bernilai negatif lagi, atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat memberikan penurunan biaya
lagi, sehingga dengan demikian dapat dikatakan kasus telah optimal, dengan total biaya :


Biaya mengirim 60 ton dari P1 ke kota B
= 60 x 5
=
300
Biaya mengirim 30 ton dari P1 ke kota C
= 30 x 8
=
240
Biaya mengirim 50 ton dari P2 ke kota A
= 50 x 15
=
750
Biaya mengirim 10 ton dari P2 ke kota C
= 10 x 10
=
100
Biaya mengirim 50 ton dari P3 ke kota B
= 50 x 10
=
500
--------- +

Total biaya pengirimannya                                                             = 1890



Dengan hasil optimal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk dapat melayani 3 pasar yang ada dengan baik, maka lokasi usaha (dalam hal ini pabrik) sebaiknya ditentukan dengan ketentuan :


Pabrik 1 akan didirikan di lokasi yang mendekati kota/pasar B dan C, dan cenderung mendekati kota B, karena pabrik 1 hanya akan melayani kedua kota tersebut, serta pengiriman ke kota B cenderung lebih besar jumlahnya.
Pabrik 2 akan didirikan di dekat kota/pasra A dan C, dan cederung mendekati kota A, karena pabrik 2 hanya akan melayani kedua kota tersebut, serta pengiriman ke kota A cenderung lebih besar jumlahnya
Pabrik  3  akan  didirikan  didekat  kota  B,  karena  pabrik  3  tersebut  hanya  melayani kota/pasar B saja.


PERENCANAAN TATA LETAK (LAY OUT)



Beberapa hal yang dapat membantu dalam perencanaan Lay Out:

a.   Atap  cukup  tinggi,  hal ini  akan  memudahkan  perusahaan  di dalam mengatur penerangan dan sirkulasi udara.
b.   Gang-gang cukup lebar, akan meudahkan arus barang dan manusia, dan juga memudahkan perawatan fasilitas perusahaan
c. Daya tahan lantai & bangunan, sangat berguna apabila perusahaan memilih bangunan berlantai lebih dari satu (bangunan bertingkat).Penting juga bila perusahaan menggunakan mesin atau fasilitas lain yang berat
d. Dudukan mesin yang fleksibel, penting untuk memudahkan perawatan dan pergantian mesin misalnya
e.   Fleksibel untuk kondisi Emergency, Dll



Tujuan Perencanaan Tata Letak:

1.   Pemanfaatan fasilitas & peralatan dengan optimal, terutama bagi perusahaan yang tidak memiliki lahan atau bangunan yang luas
2.   Aliran manusia & material menjadi lancar

3.   Pemakaian ruang dengan efisien, dalam arti memudahkan pergerakan bahan dan manusia
4.   Memberi ruang gerak yang cukup, untuk kelancaran dan kenyamanan operasional perusahaan
5.   Biaya investasi & produksi yang rendah,

6.   Fleksibilitas untuk perubahan

7.   Keselamatan kerja

8.   Suasana kerja yang baik

9.   Penggunaan tenaga kerja & persediaan yang efisien


Jenis-jenis Bangunan yang dapat dipilih:



a.   Bangunan Berlantai Tunggal

Keunggulan:

1. Fleksibel / Lebih mudah diperluas, karena tidak tergantung pondasi bangunan misalnya
2.   Pergerakan  material  & manusia  lebih  murah  dan  mudah,  karena  tidak perlu naik turun tangga/lift
3. Cocok  untuk  peralatan-peralatan  berat,  dalam  arti  memudahkan pemasangan   dan   operasional   kerja,   serta   dapat   mengurangi   beban bangunan
4. Cocok untuk produksi masa, karena untuk produksi ini umumnya menggunakan seragkaian mesin dan roda berjalan yang saling berkaitan dan membutuhkan ruangan yang luas
5.   Pengawasan lebih mudah

Kelemahan:

1.   Perlu lahan yang luas

2.   Penerangan harus cukup

3.   Ventilasi / AC harus cukup

4.   Sisi artistik atau estetika yang kurang



b.  Bangunan Bertingkat

Kebaikan:

1.   Tidak terlalu memerlukan lahan yang luas karena perluasan tempat usaha dapat dilakukan dengan menambah lantai
2.   Lebih cocok untuk perusahaan jasa, karena perusahaan jasa umumnya tidak banyak membutuhkan mesin-mesin dan lebih mengutamakan pelayanan
3.   Bangunan lebih menarik          untuk konsumen, motivasi karyawan, dll


Kelemahan:

1.   Investasi Bangunan cukup tinggi / mahal, karena memerlukan pondasi yang lebih baik dan material yang cenderung lebih mahal (untuk tangga dan lift misalnya)
2.   Sulit diperluas, karena sangat tergantung kekuatan pondasi dan juga peraturan pemerintah
3.   Penanganan material lebih sulit, karena pergerakan bahan menuntut naik dan turun lantai, sehingga tidak mungkin menggunakan roda berjalan, hanya mengandalkan lift saja
4.   Penerangan alam berkurang, karena terhalang oleh lantai-lantai di atasnya

5.   Pengawasan cukup sulit, dalam arti membutuhkan pengawasan untuk tiap lantainya
6.   Masalah keamanan, karena semakin tinggi bangunan masalah keamanan dan keselamatan yang muncul juga akan semakin besar


c.   Tipe Bangunan Lainnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

1.  Biaya lahan & bangunan

2.  Sarana & prasarana pendukung (komunikasi, k. mandi)

3.  Keamanan

5.     Karakteristik produk & perubahannya

6.   Material handling



Jenis-jenis Tata Letak :



Dalam merencanakan tata letak, perusahaan dapat memilih beberapa tipe tata letak seperti berikut ini, tentunya dengan tidak mengesampikan tipe dan karakteristik aktivitas dan operasional perusahaan masing-masing. Dengan kata lain, tipe tata letak yang cocok dan tetap bagi sebuah perusahaan, belum tentu cocok dan tepat bagi perusahaan lainnya.




1. Tata letak proses / tata letak fungsional

Penyusunan  tata  letak  dimana  alat  yang  sejenis  atau  memiliki  fungsi  yang  sama ditempatkan pada bagian yang sama
contoh: -    Perusahaan pembuat roti

-    Perusahaan mebel

-    Bengkel




Ilustrasi Layout Proses / Fungsional



Output









Input


A            A                  B


B                  C            C                  D            D








A            A                  B            B


C            C                  D            D







Keterangan :

A         : Ruangan dengan kumpulan alat ukur

B         : Ruangan dengan kumpulan alat penghalus

C         : Kumpulan alat pengecatan

D         : Kumpulan alat pemotong



Keuntungannya:

a.     Mesin  serba  guna,  misalnya  sebuah  alat  potong  dapat  digunakan  untuk memotong berbagi produk dengan desain yang berbeda, sehingga investasi rendah


b.   Fleksibilitas produk tinggi, artinya dengan peralatan yang tersedia, perusahaan dapat membuat berbagai macam produk yang berbeda satu sama lainnya.
c.   Spesialisasi mesin & karyawan tinggi

d.   Memperkecil terhentinya produksi karena merusak salah satu mesin



Kekurangannya:

a.   Karena proses & produknya beragam, pengendalian material menjadi lebih sulit b.   Pengawasan lebih sulit
c.   Meningkatnya persediaan dalam proses d.   Total waktu produksi / unit lebih lama
e.   Memerlukan keterampilan yang lebih tinggi  dan penjadwalan lebih sulit



2. Tata Letak (Layout) Produk



Tata letak ini Untuk proses produksi standar & masal.





I
A               B               C               D               E
N                                                                                                                        O

P                   A               B               D               E                                            U T
U                                                                                                                            P U
A               E                                                                                T T



Contoh perusahaan yang menggunakan tata letak produk ini adalah :

a.   Perusahaan mie instan b.   Perusahaan pemintalan c.   Perusahaan surat kabar d.   Perusahaan semen
e.   Perusahaan minuman, dll.


Keuntungannya:

a.   Aliran & pengendalian material lebih mudah & langsung b.   Pengawasan lebih mudah
c.   Persediaan produk dalam proses rendah

d.   Tidak memerlukan keterampilan yang tinggi e.   Waktu proses / unit lebih cepat
f.   Dapat menggunakan mesin otomatis & ban berjalan g.   Penjadwalan lebih mudah


Kekurangan / kelemahan:

a.   Proses produk dapat terganggu jika salah satu mesin rusak b.   Produk tidak fleksibel terhadap perubahan
c.   Bersifat monoton jadi membosankan




3. Layout Kelompok


Output



Input





A            D                        A


D                              A            D







B            C                        B            C                              B            C






Contoh: Universitas, Tempat hiburan

Kebaikan:

a.   Pengawasan lebih mudah

b.   Posisi produk yang berbeda mudah diketahui c.   Penjadwalan lebih mudah
d.   Pengendalian material lebih mudah


Kelemahan :

a.   Investasi tinggi

b.   Butuh keterampilan yang tinggi

c.   Bisa menimbulkan persaingan yang tidak sehat



4. Layout Posisi Tetap
Jika dalam lay out-layout lain, produk yang bergerak sesuai tahapan produksinya, maka pada tata letak jenis ini, justru produk tidak bergerak, bahan baku dan alat produksi-lah yang mendatangi produk.



A                     Input                     A





A                         Produk                            A





A                        A                        A




Contoh: Bengkel

Industri pesawat, kapal, kereta, dll



Sebab dari perusahaan memilih tata letak ini diantaranya adalah :

a.   Karakteristik produk yang tak bisa dipindahkan b.   Risiko pemindahan
c.   Perlu ketelitian



Kebaikannya:

a.   Gerakan material minim, pengawasan mudah b.   Kesempurnaan produk lebih terjamin


Kekurangannya:

a.   Butuh keterampilan yang tinggi b.   Waktu proses / unit lama
c.   Memerlukan ruang yang luas



Metode-metode Dalam Perencanaan Layout



A.  Untuk Usaha dengan Layout Produk/Garis



Dalam merencanakan tata letak dengan proses Produk/Garis, pilihan metode yang dapat digunakan antara lain adalah :


1. Metode Diagram string




Gudang bahan baku


Pemotongan            Mesin Obras


Mesin Jahit





Buat lubang &
pasang kancing


Setrika


Pembungkusan       Gudang bhn jadi





Penetaan layout di atas tidak optimal, mengapa ?

Sehingga perlu dilakukan perubahan menjadi seperti berikut ini.




Gudang bahan baku

Pemotongan            Mesin Obras           Mesin Jahit



Gudang bahan jadi


Pembungkusan       Setrika                    Buat lubang &
pasang kancing


2. Metode Line Balancing

Untuk mendapatkan kejelasan dari metode ini, perhatikan contoh berikut :
Suatu  perusahaan  menghasilkan  barang  melalui  suatu  departemen  perakitan.  Hasil produksi setiap jamnya 10 unit per jam. Data-data lainnya adalah :




Elemen kerja

Waktu ( menit )
Elemen kerja prasyarat yang mendahuluinya
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
3,2
0,8
3,0
3,0
1,6
1,2
1,8
3,0
2,8
2,8
0,8
2,0
1,6
-
1
2
1
1
5
2
3
4
6 dan 7
8
10
9, 11, dan 12

Jumlah

27,6


Langkah 1
Mencari pekerjaan, dan mendata elemen-elemen kerja yang ada ( lihat tabel di atas ) dan
Mencari waktu setiap elemen kerja ( lihat tabel di atas )

Langkah 2

Menyusun precedence diagram                          4                   9





1                   5                   6




2                   7                   1                              1                                    1





3                   8                      1


Langkah 3

Menghitung cyrcle time ( c ) yakni waktu maksimum mengerjakan satu unit produk di suatu work station )
c = ( 1/r )3.600 sekon = ( 1/10 )3.600 sekon

= 350 detik

= 6 menit

Langkah 4

Menghitung jumlah work station



TM ( theoritical minimum )   = n = t/c

= 27,6 menit / 6 menit

= 4,6 dibulatkan 5 stations


Langkah 5

Mencari alternatif alternatif anggota stations




Station


Alternatif

Elemen kerja terpilih


waktu

Waktu komulatif


Idle

S1




S2




S3



S3



S5

1, 5, 6
1, 2, 3
1, 2, 7

2, 7, 10
2, 7, 3



4, 9



8, 10, 11
10, 12

8, 11, 13

1
5
6

2
7
3

4
9

10
12

8
11
13

3.2
1.6
1.2

0.8
1.8
3.0

3.0
2.8

1.8
2.0

3.0
0.8
1.6

3.2
4.8
6.0

0.8
2.6
5.6

3.0
5.8

2.8
4.8

3.0
3.8
5.4

2.8
1.2
0

5.2
3.4
0.4

3.0
0.2

3.2
1.2

3.0
2.2
0.6




Langkah 6

Menghitung waktu komulatif setiap alternatif ( lihat tabel )



Langkah 7
Menentukan pilihan wark stations, yang waktu komulatifnya tidak melebihi cyrcle time dan paling mendekati cyrcle time. ( lihat tabel )






4                   9





1                   5                   6




2                   7                   1                              1                                    1





3                   8                      1





Langkah 8

Menghitung tingkat pengangguran dan tingkat efisiensi



Jumlah pengangguran komulatif tiap station ( i ) = 0 + 0.4 + 0.2 + 1.2 + 0.6 = 2,4 menit

Tingkat pengangguran
= i / ( n.c ). 100 % = 2,4 / ( 5 x 6). 100 %
= 8 %
Tingkat efisiensi
= t / ( n.c ). 100 % = 27,6 / ( 5 x 6 ) . 100 %
= 92 %


Jadi, dengan cara ini  operasional perusahaan  92 % telah dilakukan secara efisien. Semakin besar % efisiensi yang dicapai, semakin optimal perusahaan tersebut.


PERENCANAAN MATERIAL HANDLING

Salah satu alatnya: BEP (Break Even Point) Model dasarnya:



Rp
Total Pendapatan



Laba         Total Biaya









Rugi


BEP


} Biaya Variabel


} Biaya Tetap
Volume





Notasi-notasi dalam BEP: BEP (rp)  : BEP dalam rupiah BEP (x)   : BEP dalam unit
x    : Jumlah unit yang terjual

F   : Total biaya tetap

v   : Biaya variabel per unit

P   : Harga jual netto per unit

TR:  Total Revenue (Pendapatan total) TC: Total biaya

: Laba / keuntungan

t   : Pajak keuntungan

BEP dalam unit                                              BEP dalam rupiah


TR = TC                                                         BEP (x)    =   F P.x = F + v.x                                                                      P - v
P.x – v.x = F                                                   BEP (x).P =   F       . P ( P – v )x = F                                                                     P - v
BEP (x) =   F                                              BEP (rp)   = F            (P-v)                                                                 1- v/P


Contoh:



Sebuah  perusahaan  memiliki  biaya  tetap  Rp.  1.000.000.  Saat  ini  biaya  tenaga  kerja langsungnya Rp. 1.500/unit biaya material Rp. 500/unit. Apabila harga jual produk Rp.
4.000/unit, tentukanlah:

a.   Titik Break Even

b.   Apabila keuntungan ditargetkan Rp. 560.000 berapa unit harus dijual?

c.   Bila  keuntungan  tersebut  dikenakan  pajak  30%,  berapa  unit  terjual,  agar keuntungan tetap sebesar Rp. 560.000,-?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar