Senin, 18 Desember 2017

makalah perekonomian 2 sektor



makalah perekonomian 2 sektor

BAB I
PENDAHULUAN

            Perekonomian dua sektor merupakan penyederhanaan dalam mempelajari sistem perekonomian secara keseluruhan. Keseimbangan dalam perekonomian dua sektor merupakan keseimbangan dari sisi pendapatan dan sisi pengeluaran yang dilakukan oleh sektor rumah tangga dan sektor swasta, dengan mengabaikan sektor pemerintah dan sektor luar negeri.
            Perilaku pengeluaran yang dilakukan oleh sektor rumah tangga bisa dilakukan dengan membuat fungsi konsumsi dan fungsi tabungan, untuk melihat bagaimana perubahan pendapatan terhadap tingkat pengeluaran konsumsi dan tabungan. Kecenderungan bagi sektor rumah tangga untuk melakukan konsumsi disebut dengan Marginal Propensity to Consume (MPC). Sedangkan kecenderungan bagi sektor rumah tangga untuk melakukan tabungan disebut dengan Marginal Propensity to Save (MPS).
            Uraian dalam makalah ini bertujuan untuk melihat dengan lebih mendalam lagi dan membuktikan bahwa tingkat kegiatan ekonomi bergantung kepada tingkat pengeluaran agregat yang dilakukan oleh seluruh golongan masyarakat dan dibahas penentuan tingkat kegiatan ekonomi dalam suatu perekonomian dua sector atau perekonomian sederhana. Tingkat kegiatan ekonomi dalam perekonomian yang lebih maju dan lebih rumit corak kegiatannya. Uraian ini menjelaskan mengenai bagaimana pengeluaran agregat akan menentukan tingkat kegiatan ekonomi dinamakan : analisa tingkat keseimbangan perekonomian Negara atau analisa penentuan tingkat pendapatan Nasional.

BAB II
 ISI
            Perekonomian dua sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor perusahaan dan sektor rumah tangga. Dalam perekonomian tidak terdapata pajak dan pengeluaran pemerintah. Perekonomian itu juga tidak melakukan perdagangan luar negeri dan dengan demikian perekonomian itu tidak melakukan kegiatan ekspor dan impor.
            Dalam perekonomian dua sektor sumber pendapatan yang diperoleh rumah tangga adalah dari perusahaan. Pendapatan ini meliputi gji, upah, sewa, bunga dan keuntungan adalah sama nilainya dengan pendapatan nasional. Dan oleh karena itu pemerintah tidak memungut pajak maka pendapatan nasional (Y) adalah sama dengan pendapatan disposebel (Yd) atau Y = Yd.
Pendapatan yang digunakan rumah tangga akan digunakan untuk dua tujuan yaitu untuk pengeluaran konsumsi dan ditabung. Tabungan ini akan dipinjamkan kepada penanam modal atau nvestor dan akan digunakan untuk memebeli barang – barang modal seperti mesin – mesin, peralatan produksi lain, mendirikan bangunan pabrik dan bangunan kantor.
Ciri-ciri aliran pendapatan dalam perekonomian dua sektor
1.        Sebagai balas jasa kepada penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki sektor rumah tangga oleh sektor perusahaan, sektor rumah tangga akan memperoleh aliran pendapatan berupa gaji, upah, sewa, bunga, dan untung.
2.        Sebahagian besar dari berbagai jenis pendapatan yang diterima oleh sektor rumahtangga akan di gunakan untuk konsumsi, yaitu membeli barang-barang dan jasa-jasa yang di hasilkan oleh sektor perusahaan.
3.        Sisa dari berbagai jenis pendapatan rumahtangga yang tidak di gunakan untuk pengeluaran konsumsi akan di tabung dala institusi-institusi keuangan.
4.        Pengusaha-pengusaha yang memerlukan modal untuk melakukan investasi akan meminjam tabungan yang dikumpulkan oleh institusi-institusi keuangan dari sektor rumahtangga.

A.Hubungan Antara konsumsi Dan Pendapatan
Daftar konsumsi dan tabungan rumahtangga (dalam ribu rupiah).
Pendapatan disposible (Yd)
(1)
Pengeluaran konsumsi (C)
(2)
Tabungan (S)
(3)
0
125
-125
100
200
-100
200
275
-75
300
350
-50
400
425
-25
500
500
0
600
575
25
700
650
50
800
725
75
900
800
100
1000
875
125

            Ciri khas dari hubungan di antara pendapatan disposable, pengeluaran konsumsi dan tabungan, yaitu ;
1) Pada pendapatan yang rendah rumahtangga mengorek tabungan.
Pada waktu pendapatan disposable adalah (Yd = 0), pengeluaran konsumsi adalah Rp 125 ribu. Ini berarti rumahtangga harus menggunakan harta atau tabungan masa lalu untuk membiayai pengeluaran konsumsinya. Tabungan negative atau mengorek tabungan akan selalu dilakukan oleh rumahtangga apabila pendapatannya masih di bawah Rp 500 ribu.
2) Kenaikan pendapatan menaikkan pengeluaran konsumsi.
Biasanya pertambahan pendapatan adalah lebih tinggi daripada pertambahan konsumsi. Contoh dalam table 4.1 menunjukkan apabila pendapatan bertambah sebanyak Rp 100 ribu, konsumsi bertambah sebanyak Rp 75 ribu. Sisa pertambahan pendapatan itu (Rp 25 ribu) ditabung.
3) Pada pendapatan yang tinggi rumahtangga menabung.
Disebabkan pertambahan pendapatan selalu lebih besar dari pertambahan konsumsi, maka pada akhirnya rumahtangga tidak “mengorek tabungan”. Ia akan mampu menabung, sebahagian dari pendapatannya. Table 4.1 menunjukkan apabila pendapatan rumahtangga lebih dari Rp 500 ribu, konsumsinya lebih rendah dari pendapatannya. Sebagai contoh, pada pendapatan Rp 900 ribu, konsumsinya adalah Rp 800 ribu dan ini menunjukkan rumah tangga sudah menabung sebanyak Rp 100 ribu.
Þ Kecondongan Mengkonsumsi dan Menabung
            Untuk memahami dengan baik sifat hubungan di antara pendapatan disposibel dengan konsumsi, dan pendapatan disposebel dengan tabungan perlulah di terangkan dua konsep penting beikut:

a. MPC ( Marginal Propensity to Consume )
: perbandingan di antara pertambahan konsumsi (∆C) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposebel (∆Yd) yang diperoleh.
 MPC = ∆C
 ∆Yd
b. APC ( Average Propensity to Consume )
: perbandingan diantara tingkat konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel ketika konsumsi tersebut dilakukan (Yd).
APC = C
 Yd
c. Contoh Menghitung MPC dan APC
Pendapatan disposebel (Yd)
(1)
Pengeluaran konsumsi (C)
(2)
Kecondongan Mengkonsumsi Marjinal (MPC)
(3)
Kecondongan Mengkonsumsi Rata-rata (APC)
(4)
Contoh 1 : MPC Tetap
Rp 200 ribu
Rp 400 ribu
Rp 600 ribu
Rp 800 ribu
Rp 300 ribu
Rp 450 ribu
Rp 600 ribu
        Rp 750 ribu
150 / 200 = 0,75
150 / 200 = 0,75
150 / 200 = 0,75
300/ 200 = 1,50
450 / 400 = 1,125
600 / 600 = 1,00
750 / 800 = 0,937
Contoh 2 : MPC Makin Kecil
Rp 200 ribu
Rp 400 ribu
Rp 600 ribu
Rp 800 ribu
Rp 300 ribu
Rp 460 ribu
Rp 610 ribu
        Rp 750 ribu
160 / 200 = 0.80
150 / 200 = 0,75
140 / 200 = 0.70
300/ 200 = 1,50
460 / 400 = 1,15
610 / 600 = 1,017
750 / 800 = 0,937

            Dalam contoh 1 digambarkan pendapatan disposebel dalam kolom (1) selalu bertambah sebanyak Rp 200 ribu dan ini mengekibatkan konsumsi , yang ditunjukkan dalam kolom (2) , juga senantiasa bertambah sebnyak Rp 150 ribu. Maka MPC , yang ditunjukkan kolom (3) adalah 0,75 dan dibuktikan dengan penghitungan berikut :
MPC = ∆C = 150 ribu = 0,75
∆Yd 200 ribu
            Dalam contoh 2 digambarkan pendapatan disposebel juga selalu bertambah sebanyak Rp 200 ribu, tetapi kenaikan konsumsi rumah tangga makin kecil pertambahannya. Sifat hubungan diantara pertambahan pendapatan disposebel dan konsumsi adalah :
a. Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 200 ribu menjadi Rp 400 ribu, konsumsi naik dari Rp 300 ribu menjadi Rp 460 ribu. Pada perubahan pendapatan dan konsumsi ini MPC adalah :
( 460 – 300 ) / ( 400 – 200 ) = 0,8

b. Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 400 ribu menjadi Rp 600 ribu, konsumsi bertambah dari Rp 460 ribu menjadi Rp 610 ribu. Maka MPC :
( 610 – 460 ) / ( 600 – 400 ) = 0,75
c. Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 600 ribu menjadi Rp 800 ribu, konsumsi bertambah dari Rp 610 ribu menjadi Rp 750 ribu. Maka MPC :
( 750 – 610 ) / ( 800 – 600 ) = 0,70
Untuk penhitungan APC dapat dilihat pada kolom (4). Dari contoh 1 dan 2 dapat dilihat bahwa APC berubah-rubah nilainya, dan nilainya makin lama makin rendah. Apabila Yd lebih kecil dari C, maka APC lebih besar dari 1 (sebagai contoh pada Yd = Rp 200 ribu , C = Rp 300 ribu, maka APC = 300 / 200 = 1,5 ) ; dan apabila Yd lebih besar dari C, maka APC lebih kecil dari 1 (sebagai contoh pada Yd = Rp 800 ribu, C = Rp 750 ribu, maka APC = 750 / 800 = 0,9375).
Kecondongan Menabung Marjinal
1. MPS ( Marginal propensity to save ) atau Kecondongan menabung marginal
Adalah perbandingan diantara perubahan tabungan ( S ) dengan pertambahan pendapatan disposebel ( Yd ).
Nilai MPS dihitung dengan menggunakan rumus :
MPS = ( S )
( Yd )

2. APS ( Average propensity to save ) atau Kecondongan menabung rata-rata
Adalah perbandingan di antara tabungan ( S ) dengan pendapatan diposebel ( Yd )
Nilai APS dapat dihitung dengan menggunakan rumus
APS = S
Yd Contoh 1 : MPS Tetap
Pendapatan Disposebel
( Yd )
Pengeluaran
Konsumsi
( C )
Tabungan
( S )
MPS
APS
1.Rp 200 ribu
Rp 300 ribu
Rp -100 ribu
-
-100/200 = -0,50
2.Rp 400 ribu
Rp 450 ribu
Rp - 50 ribu
50/200 = 0,25
-50/400 = -0,25
3.Rp 600 ribu
Rp 600 ribu
Rp 0 ribu
50/200 = 0,25
0/600 = 0
4.Rp 800 ribu
Rp 750 ribu
Rp 50 ribu
50/200 = 0,25
50/800 = 0,0625


Contoh 2 : MPS Makin Besar
Pendapatan Disposebel
( Yd )
Pengeluaran
Konsumsi
( C )
Tabungan
( S )
MPS
APS
1.Rp 200 ribu
Rp 300 ribu
Rp -100 ribu
-
-100/200 = -0,50
2.Rp 400 ribu
Rp 450 ribu
Rp - 60 ribu
40/200 = 0,20
-60/400 = -0,15
3.Rp 600 ribu
Rp 600 ribu
Rp -10 ribu
50/200 = 0,25
-10/600 = -0,017
4.Rp 800 ribu
Rp 750 ribu
Rp 50 ribu
60/200 = 0,30
50/800 = 0,0625
            Berdasarkan pada data tersebut MPS adalah seperti yang ditunjukan dalam perhitungan di bawah ini :
a. Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 200 ribu menjadi Rp 400 ribu, tabungan berubah dari Rp -100 ribu menjadi Rp -60, maka MPS = { (-60 )– (-100)/(400-200)} = 0,20
b. Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 400 ribu menjadi Rp 600 ribu, tabungan berubah dari Rp -60 ribu menjadiRp -10, maka MPS = { (-10 )– (-60)/(600-400)} = 0,25
c. Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 800 ribu menjadi Rp 600 ribu, tabungan berubah dari Rp -10 ribu menjadiRp 50, maka MPS = { (50 )– (-10)/800-600} = 0,30
            Dari tabel contoh 1 dam 2 ini dapat kita lihat bahwa nilai APS semakin besar apabila pendapatan disposebel bertambah. Pada mulanya nilainya negative, karena rumah tangga masih melakukan “ mengorek tabungan atau “dissaving” .
Dibawah ini ditunjukan dua contoh perhitungan APS
a. Dalam contoh 1, apabila pendapatan disposebel adalah Rp 200 ribu, tabungan adalah Rp -100, maka APS adalah S/Y = -100/200 = -0,5
b. Dalam Contoh 2, apabila pendapatan disposebel adalah Rp 400 ribu, tabungan adalah Rp -60, maka APS adalah S/Y = -60/400 = -0,15
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Pendapatan disposebel sangat mempengaruhi jumlah Kosumsi dan Tabungan sehingga MPS dan APS juga akan mengalami perubahan.
Hubungan diantara Kecondongan mengkonsumsi dan Menabung Bukti MPS + MPC = 1 dan APC + APS = 1
            Pembuktian dengan aljabar dapat kita lihat dari bahwa pendapatan disposebel sama dengan konsumsi rumah tangga ditambah dengan tabungan rumah tangga. Dalam persamaan :
Yd = C + S
Apa bila persaman tersebut kita bagi dengan Yd, maka :
Yd = C + S
Yd Yd Yd
1 = APC+APS ……terbukti
Karena C/Yd = APC
S/Yd = APS
            Hal ini juga terjadi apabila rumah tangga mengalami kenaikan pendapatan maka konsumsi dan tabungan akan bertambah. Hubungan diantara pertambahan pendapatan, pertambahan konsumsi dan pertambahan tabungan dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut :
∆Yd = ∆C + ∆S
            Apabila masing – masing komponen dari persamaan di atas di bagi oleh ∆Yd, maka akan diperoleh :
∆Yd = ∆C + ∆S
∆Yd ∆Yd ∆Yd
1 = MPC + MPS…..terbukti
Karena ∆C/∆Yd = MPC
B.  FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN
             Fungsi komsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara  tingkat komsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan  nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut.

            Fungsi tabungan adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat tabungan rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut.
Pendapatan Nasional Dalam Keseimbangan
Y = C + S
Pendapatan Nasional
Konsumsi
Tabungan
0
90
-90
120
180
-60
240
270
-30
360
360
0
480
450
30
600
540
60
720
630
90
840
720
120
960
810
150
1080
900
180
1200
990
210
Persamaan Matematis
 Fungsi komsumsi ialah C = a + bY
 Fungsi tabungan ialah S = -a + (1 - b)Y



 Penentu-Penentu Lain Konsumsi dan Tabungan
a)    Kekayaan yang telah terkumpul.
b)   Suku bunga.
c)    Sikap berhemat.
d)   Keadaan perekonomian.
e)    Distribusi pendapatan.
f)    Tersedia tidaknya dana pensiun yang mencukupi.

C.    INVESTASI
                  Investasi (investment) adalah bagian dari tabungan yang digunakan untuk kegiatan ekonomi menghasilkan barang dan jasa (produksi) yang bertujuan mendapatkan keuntungan. Jika tabungan besar, maka akan digunakan untuk kegiatan menghasilkan kembali barang dan jasa (produksi). Tabungan akan digunakan untuk investasi.
                  Demikianlah, dari ketentuan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jika investasi neto positif (investasi bruto lebih besar daripada penyusutan), perekonomian itu mengalami kemajuan. Jika investasi neto bernilai nol (investasi bruto sama dengan penyusutan), dikatakan bahwa perekonomian yang bersangkutan berada dalam keadaan stasioner. Sementara itu, jika investasi neto bernilai negative (investasi bruto lebih kecil daripada penyusutan), perekonomian itu mengalami kemunduran.
                   Investasi mempunyai dampak sangat besar terhadap bertambahnya pendapatan nasional. Bila dirumuskan :
Y = C + S
Y = C + I
Sehingga I = S


Keterangan:
Y (yield)                 :    pendapatan
C (consumption)      :    konsumsi
S (saving)               :    tabungan
Penentu-penentu tingkat investasi :
a.  Tingkat keuntungan yang di ramalkan akan di peroleh.
b.  Suku bunga.
c.  Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan.
d.  Kemajuan teknologi.
e.  Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.
f.  Keuntungan yang di peroleh perusahaan-perusahaan.

D.    PENENTUAN TINGKAT KEGIATAN EKONOMI
            Analisa makro ekonomi biasanya tidak memberikan gambaran yang sangat rumit mengenai aliran-aliran pendapatan yang sebenarnya berlaku di dalam kenyataan. Gambaran semacam itu tidak diperlukan dalam analisa ekonomi, karena dengan menyederhanakan gambaran itu telah dapat ditunjukkan corak kegiatan yang terjadi dalam suatu perekonomian. Gambaran yang paling sederhana dari kegiatan dalam sesuatu perekonomian ditunjukkan oleh aliran-aliran pendapatan diantara dua faktor ekonomi yang pertama, yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan.

Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kegiatan Ekonomi
            Oleh karena dalam perekonomian tidak terdapat kekurangan permintaan, menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik dimana tingkat kegiatan ekonomi akan di capai tergantung kepada kemampuan sector perusahaan untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Kesanggupan ini dibatasi oleh banyaknya faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian itu. Oleh sebab itu menurut ahli-ahli ekonomi klasik sampai dimana sesuatu perekonomian dapat memproduksikan barang-barang dan jasa-jasa dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut :
Y = f (K,L,Q,T)
Keterangan :
Y         : Pendapatan nasional
K         : Jumlah seluruh barang modal
L          : Jumlahseluruh tenaga kerja
Q         : Jumlah kekayaan alam yang di gunakan
T          : Tingkat teknologi yang digunakan
Keseimbangan perekonomian Negara
Keseimbangan Perekonomian Negara adalah suatu keadaan dimana perekonomian menjadi seimbang jika pendapatan nasiolanal sama dengan pengeluaran agrerat dan investasi sama dengan tabungan.
Y = C + I
I = S
Untuk menentukan tingkat kesimbangan perekonomian Negara dapat digunakan 3 cara yaitu :
1. Menggunakan contoh angka pedapatan nasional dan perbelanjaan agregat
2. Menggunakan grafik yang menunjukan :
a. Kesamaan perbelanjaan agregat dengan penawaran agregat.
b. Kesamaan diantara investasi dan tabungan
3. Menggunakan cara pembuktian secara aljabar.




Contoh angka keseimbangan Pendapatan Nasional
Pendapatan
Nasional (Y)
(1)
Konsumsi (C)
(2)
Tabungan
(S)
(3)
Investasi
(I)
(4)
Pengeluaran
Agregat (AE)
(5)
Keadaan perekonomian
(6)
0
120
240
360
480
600
720
90
180
270
360
450
540
630
-90
-60
-30
0
30
60
90
120
120
120
120
120
120
120
210
300
390
480
570
660
750
EXSPANSI
840
720
120
120
840
SEIMBANG
960
1080
1200
810
900
990
150
180
210
120
120
120
930
1020
1110
KONTRAKSI

            Ekspansi yaitu dalam tabel dapat dilihat pada waktu pendapatan nasional lebih rendah dari Rp 840 triliun, pengeluaran agregat adalah lebih besar dari pada pendapatan nasional. Keadaan ini akan mendorong para pengusaha untuk mendorong para pengusaha untuk menambah produksi mereka.
            Kontraksi yaitu pada saat pendapatan nasional lebih besar dari 840 triliun pengeluaran agregat lebih kecil dari pendapatan nasional.Artinya banyak barang yang diproduksi oleh perusahaan tidak terjual.keadaan ini mendorong perusahaan untuk mengurangi kegiatan mereka.


















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perekonomian dua sektor atau perekonomian sederhana adalah suatu perekonomian yang hanya terdiri  dari sektor rumah tangga dan sektor perusahaan. Tingkat kegiatan ekonomi ditentukan oleh jumlah dan mutu daripada faktor-faktor produksi. Menurut Keyness tingkat kegiatan ekonomi ditentukan oleh besarnya pengeluaran agregat yang dilakukan masyarakat. Pengeluaran agregat tersebut akan menentukan sampai dimana sektor perusahaan harus melakukan kegiatannya untuk memproduksikan barang-barang dan jasa-jasa.
Dari sifat perputaran aliran pendapatan yang terdapat dalam gambar itu dapat diambil kesimpulan bahwa aliran-aliran pendapatannya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Sebagai balas jasa kepada penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki sektor rumah tangga oleh sektor perusahaan, sektor rumah tangga akan memperoleh aliran pendapatan berupa gaji dan upah, sewa, bunga dan untung.
2.      Sebagian besar dari berbagai jenis pendapatan yang diterima oleh sektor rumah tangga akan digunakan untuk konsumsi, yaitu membeli barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh sektor perusahaan.
3.      Sisa dari berbagai jenis rumah tangga yang tidak digunakan untuk pengeluaran konsumsi akan ditabung dalam badan-badan keuangan.
4.      Pengusaha-pengusaha yang memerlukan modal untuk melakukan investasi akan meminjam tabungan yang dikumpulkan oleh badan-badan keuangan dari sektor rumah tangga.


DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono. 1987. Pengantar Teori Makro Ekonomi, Lembaga Penerbit     FEUI.
Rosyidi, Suherman. 2002. Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan          Makro. Rajawali Pers.
Boediono. 2009. Ekonomi Makro. BPFE Yogyakarta.
Rahardja, Prathama. 2005. Pengantar Ilmu Ekonomi. Lembaga Penerbit             FEUI.
     Dombusch, Rudiger. 1997. Ekonomi Makro. Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar