Kamis, 15 Maret 2018

VISI, MISI, DAN SEJARAH BERDIRIHNYA PT. ROSALIA EXPRESS



VISI, MISI, DAN SEJARAH BERDIRIHNYA PT. ROSALIA EXPRESS

VISI
Menjadi perusahaan jasa pengiriman terbaik dan terpercaya di Indonesia dengan mengutamakan loyalitas pelanggan.
MISI
  1. Memberikan pelayanan yang Ramah, Sopan, dan Berorientasi pada kepuasan pelanggan serta sanggup memberikan harga yang bersaing.
  2. Memastikan pengiriman berlangsung Aman, Tepat tujuan, dan Tepat waktu.
  3. Memperluas jaringan pelayanan dan menyediakan armada dan kru pengiriman dengan kondisi prima.
  4. Meningkatkan kinerja dan kompetensi Sumber Daya Manusia yang dimiliki dan membentuk lingkungan kerja kondusifke arah atmosfir kerja yang positif, solid dan saling membangun.
  5. Menerapkan sistem manajemen yang kuat berdasar pada evaluasi dan perbaikan berkala, serta peningkatan berkesinambungan sebagaimana sistem manajemen mutu ISO 9001:2008.
Sejarah

PT. Rosalia Express adalah salah satu bagian dari unit Rosalia Indah Group yang khusus melayani customer dalam hal pengiriman paket barang. Rosalia Express berawal dari Rosalia Indah dengan armada Bus yang sering mendapat titipan paket ke berbagai tujuan yang diletakkan di bagasi bus, sehingga seiring berjalannya waktu dan seiring kemajuan serta perkembangan usaha, pada tanggal 6 Maret 2004 resmi berdiri PT. Rosalia Express yang fokus hanya menangani jasa pengiriman paket. Hingga sekarang PT Rosalia Express memiliki jaringan 11 Area Perwakilan dan lebih dari 250 Agen yang tersebar di seluruh Jawa dan Sumatera.

         Pelayanan paket PT. Rosalia Express tidak hanya melayani pengiriman dalam skala kecil, kami juga melayani pengiriman paket dalam skala besar. Dalam upaya peningkatan kepuasan pelanggan PT. Rosalia express melakukan pembenahan dan penyempurnaan pada semua lini dan jenjang manajerial. PT. Rosalia Express bekerja keras untuk menyelaraskan System dan Prosedur dari Konsultan Manajemen ISO 9001:2008. Hal ini sebagai upaya signifikan PT. Rosalia Express dalam meningkatkan Manajemen Mutu melalui Standarisasi Internasional sesuai yang termaktub dalam ISO 9001:2008.

VISI, MISI DAN SEJARAH BERDIRIHNYA PT. GARUDA INDONESIA



VISI, MISI DAN SEJARAH BERDIRIHNYA PT. GARUDA INDONESIA

VISI PERUSAHAAN

Menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan layanan yang berkualitas kepada masyarakat dunia menggunakan keramahan Indonesia.

MISI PERUSAHAAN

Sebagai perusahan penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan pelayanan yang profesional.

SEJARAH
PT Garuda Indonesa (Persero) Tbk merupakan maskapai penerbangan nasional pertama dan terbesar yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Sejarah berdirinya PT Garuda Indonesia bermula sejak Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno mengemukakan idennya di depan sejumlah pedagang besar di Aceh untuk membeli pesawat Dakota (DC 3) dalam rangka melanjutkan revolusi kemerdekaan melawan belanda pada 16 Juni 1948. Menyikapi ide Presiden, Sebagian Besar pedagang kemudian menyumbangkan dananya hingga terkumpul uang sebanyak 130.000 Strait Dollar dan 20 kg emas yang kemudian digunakan untuk membeli pesawat DC-3 (Dakota).
Pesawat ini melakukan penerbangan komersil perdananya dari Yogyakarta menuju ke Jakarta pada tanggal 26 Januari 1949, yang kemudian dianggap sebagai hari jadi Garuda Indonesia. Pada 25 Desember 1949, Dr. Konijnenburg, wakil KLM yang juga menjadi teman Presiden Soekarno, melapor kepada presiden di Yogyakarta bahwa KLM akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil keputsan KMB (Konferensi Meja Bundar). Konijnenburg juga meminta kepada Presiden untuk memberi nama bagi perusahaan tersebut. Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menjawabnya dengan mengutip sajak berbahasa Belanda gubahan Raden Mas Noto Soeroto, seorang pujangga terkenal di zaman colonial. Baris Sajak tersebut bertuliskan “Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden” yang artinya “Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi diatas kepulauanmu”. Dari sajak itulah kemudian pesawat DC-3 yang sudah ada diberi nama “Garuda Indonesian Airways”.
Garuda Indonesian Airways (GIA) mendapatkan konsesi monopoli penerbangan dari pemerintah Indonesia, pada tahun 1950. Dalam pendiriannya, Pemerintah Birma (sekarang Myanmar) juga turut andil membantu. Garuda Indonesian Airways merupakan proyek hasil joint antara pemerintah Indonesia dengan KLM , dimana pemerintah Indonesia memiliki 51% sahamnya. Dalam 10 tahun pertama setelah pendiriannya, perusahaan ini dikelola oleh KLM, namun pihak KLM terpaksa harus menjual sebagian sahamnya pada tahun 1953 karena desakan nasionalis.
Di tahun 1985, pimpinan GIA yang baru yakni R.A.J Lumenta melakukan re-branding terhadap maskapai ini dengan merubah nama Garuda Indonesian Airways menjadi Garuda Indonesia. Selain itu, Lumenta juga memindahkan pangkalan utama maskapai yang awalnya berada di Bandara Kemayoran dan Bandar Udara Halim Perdanakusuma dipindahkan ke Bandara Soekarno Hatta demi memperbaiki sistem manajemen dan penambahan rute. Pada tahun yang sama, Garuda Indonesia berhasil merintis penerbangan menuju ke Amerika Serikat dengan destinasi Los Angeles menggunakan armada pesawat Douglas DC-10-30 yang diberi logo spesial gabungan dari Continental Airlines dan Garuda Indonesia.







VISI, MISI, DAN SEJARAH MERPATI NUSANTARA AIRLINES



VISI, MISI, DAN SEJARAH MERPATI NUSANTARA AIRLINES
Visi Merpati:
Menjadi perusahaan penerbangan yang berperan aktif dalam menggerakkan pembangunan nasional dengan menguntai nusantara, membedah isolasi dan menghubungkannya dengan kawasan regional.


Misi Merpati:
Sebagai perusahaan penerbangan nasional yang memberikan layanan prima, yang menguntungkan, dengan jaringan terintegrasi, menghubungkan daerah terpencil, kota besar dan regional.

Awal november 1958, Perdana Menteri Indonesia Ir. H. Djuanda secara resmi membuka “Jembatan Udara Kalimantan” yang menghubungkan dearah-daerah terpencil di kalimantan, dimana transportasi lain sangat sulit dipergunakan. Sebagai perkembangan yang berikut, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1962, maka pada tanggal 6 September 1962, ditetapkan pendirian perusahaan Negara Merpati Nusantara yang bertugas menyelenggarakan perhubungan didaerah-daerah dan penerbangan serbaguna serta memajukan segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan dalam arti yang seluas-luasnya.
Tahun 1963, ketika Irian Barat pindah dari tangan Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia, NV De Kroonduif, yaitu perusahaan penerbangan Belanda di Irian Jaya diserahkan kepada Garuda Indonesia Airways (GIA). Karena garuda memusatkan perhatiannya pada pengembangan flag carrier, maka semua konsesi penerbangan di Irian Jaya dan fasilitas teknisnya diberikan kepada Merpati.
Pada tahun 1974 ”Penerbangan Perintis” yang disubsidi pemerintah secara resmi diserahkan kepada Merpati. Dengan suksesnya perluasan jaringan transportasi udara, Merpati memberikan dampak positif kepada perkembangan nasional. Berkat prestasi itu, pemerintah menaruh kepercayaan kepada merpati, dan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 70 tahun 1971, status Merpati dialihkan, dari Peusahaan Negara(PN) menjadi Persero, yakni PT.Merpati Nusantara Airlines.











Visi, Misi Dan Sejarah Berdirinya Maskapai Citilink



Visi, Misi Dan Sejarah Berdirinya Maskapai Citilink
Didirikan pada awal tahun 2001, Citilink awalnya merupakan sebuah Strategic Business Unit dari maskapai flag carrier milik pemerintah, Garuda Indonesia. Dipicu oleh deregulasi penerbangan Indonesia pada era reformasi yang memunculkan puluhan maskapai berbiaya murah baru, Garuda Indonesia sebagai pemain terbesar saat itu, tidak tinggal diam. Berbekal beberapa unit Fokker F28 bekas milik sang induk, Citilink mengudara sebagai salah satu perpanjangan tangan Garuda di segmen Low Cost Carrier. Pada era itu, Citilink dikenal oleh masyarakat dengan livery armadanya yang bercorak bunga yang berwarna-warni dan sangat mencolok.

Era Fokker F28 di Citilink dilanjutkan dengan regenerasi armada, dan pada tahun 2004 beberapa Boeing 737-300 milik Garuda ditransfer ke Citilink. Dengan adanya Boeing 737 ini, Citilink dapat meningkatkan daya angkutnya hingga mencapat 130 orang per penerbangan. Jaringan Citilink juga semakin berkembang dengan pembukaan hub di Bandara Juanda, Surabaya.

Persaingan yang semakin ketat di segmen Low Cost Carriers membuat Citilink juga semakin agresif dalam menurunkan harga serta ekspansi ke kota-kota di berbagai wilayah Indonesia, termasuk menjadikan kawasan Indonesia Timur sebagai focus region. Rute-rute yang awalnya masih merupakan rute-rute transit/pointto-point (seperti Surabaya-Balikpapan-Tarakan) diganti menjadi rute-rute langsung dari hub Citilink di Surabaya dan Jakarta.

Karena persaingan yang ketat ini pula, pada Januari 2008, Citilink akhirnya memutuskan untuk menghentikan operasionalnya sementara (hiatus) dan mengalami restrukturisasi oleh Garuda Indonesia. Selama 5 bulan, hingga Mei 2008, Citilink mengalami transformasi dan brand rejuvenation, di mana Citilink diluncurkan kembali sebagai LCC pada Agustus 2008 dengan tagline "Enjoy Simplicity".

Di generasi II ini, Citilink dibranding dengan warna merah maroon yang dapat dilihat pada tailfin armada mereka. Investasi hingga USD10 juta ditanamkan pada Citilink untuk melakukan pembenahan dan ekspansi. Armada Boeing 737-300 ditambah dengan pembelian dari maskapai dalam dan luar negeri lain. Kantor pusat Citilink yang sebelumnya bergabung dengan Garuda dipindah ke Surabaya yang telah ditetapkan sebagai base operations.

Pada awal 2011, PT Garuda Indonesia Tbk sebagai pemilik tunggal Citilink memutuskan untuk melakukan spin-off terhadap Citilink. Artinya Citilink dibentuk sebagai sebuah perusahaan yang berdiri sendiri, bukan lagi hanya sebagai SBU dari Garuda. PT Citilink Indonesia berdiri sebagai perusahaan sendiri dan betul-betul berfokus di segmen Low Cost Carrier. Citilink di-rebranding lagi sebagai sebuah maskapai sendiri, bukan sebagai Citilink Garuda Indonesia. Sebagai sebuah perusahaan independen, Citilink juga memulai proses untuk mendapatkan Air Operator's Certificate (AOC) sendiri. Sejak berdiri sampai saat itu Citilink masih memakai AOC milik Garuda Indonesia, dan semua penerbangan Citilink masih berkoda GA/GIA.

Surat Izin dari DKUPPU Departemen Perhubungan diterbitkan pada Januari 2012, dan Citilink secara resmi menjadi airline sendiri yang terpisah. Lalu, AOC untuk penerbangan niaga berjadwal (AOC121) diterbitkan pada Juli 2012. Dengan kode QG/CTV dan Callsign "Supergreen", Citilink memulai era baru sebagai LCC modern dengan penaawaran tiket murah dan beberapa promo, yang siap berkompetisi dengan para pemain lama, seperti Lion Air dan Indonesia AirAsia.

                   Visi
“Menjadi dan mengembangkan Citilink sebagai Low Cost Carrier di dunia penerbangan Indonesia dan dunia.”
                   Misi :
·      Menambah armada menjadi 28 unit di tahun 2012 dan menjadi 50 unit di tahun 2015
·      Menambah frekuensi penerbangan dari 30 menjadi 130 frekuensi penerbangan di tahun 2013
·      Menambah 4-5 rute destinasi di indonesia tahun 2012
·      Membuat internasional destinasi di tahun 2013
·      Membuat online booking dan purchase untuk memudahkan kostumer membeli tiket Citilink
·      Bekerjasama dengan Bank ternama untuk memudahkan kostumer melakukan transaksi