Rabu, 14 Maret 2018
Minggu, 11 Maret 2018
VISI, MISI DAN SEJARAH PT. DJAKARTA LLOYD (PERSERO)
VISI, MISI DAN SEJARAH PT. DJAKARTA LLOYD (PERSERO)
"Menjadi
Perusahaan Pelayaran dan Logistik yang Handal dan Terpercaya Untuk Membangun
Ekonomi Nasional."
1. Mengoptimalkan sinergi
angkutan laut di lingkungan BUMN dan Swasta dengan cara mengoptimalkan cargo
atas kontrak yang sudah dimiliki dan mencari pasar baru untuk memperoleh
keuntungan yang cukup dalam masa transisi.
2. Meningkatkan mutu pelayanan
agar dapat meraih kepercayaan kembali.
3. Menyelesaikan masalah
ketenagakerjaan dan kreditur agar perusahaan dapat fokus berbisnis.
4. Menjadi perusahaan yang
kuat dan mampu memberikan kontribusi kepada Pertumbuhan Nasional.
Sejarah yang membanggakan
PT Djakarta Lloyd (Persero)
didirikan pada tahun 1950 dengan nama NV Djakarta Lloyd atas prakarsa para
pejuang kemerdekaan Angkatan Laut Pangkalan IV di Tegal.
Perubahan Status
Perusahaan.
Pada tahun 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 108 tahun 1961 status
Perusahaan berubah menjadi Perusahaan Negara dengan nama PN Djakarta Lloyd dan
berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No : 20 Tahun 1974 tanggal
22 April 1974 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara “Djakarta Lloyd”
menjadi Perusahaan (Persero).
·
AWALMULA
Dalam perjalanannya PT
Djakarta Lloyd yang pada awalnya mengoperasikan 2 (dua) buah kapal uap yaitu SS
Jakarta Raya 1952 dan SS Djatinegara 1952 terus berkembang hingga saat ini
menjadi perusahaan pelayaran nasional yang melayani jalur pelayaran domestik
dan internasional.
·
MASA GEMILANG
Pada Masa jayanya di era
1960an sedikitnya PT Djakarta lloyd (Persero) mengoperasikan 20 unit kapal
dengan kantor cabang yang tersebar di 4 benua dengan 31 Kantor Cabang dan 3174
Pegawai.
·
IDE SEDERHANA YANG MENYALA
Gagasan perjuangan yang
menjadi amanah para pendiri Djakarta lloyd adalah mewujudkan cita - cita
kemerdekaan yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan keberanian dan pengalaman berlayar sejak awal Djakarta lloyd didirikan untuk
menerobos dominasi asing dalam pelayaran barang niaga. Pada awal perjalanannya
Djakarta lloyd merupakan aset strategis Bangsa Indonesia dalam hal kemandirian
ekonomi dan ketahanan nasional, peran Djakarta lloyd adalah sebagai alat
pemersatu bangsa dari berbagai pulau -pulau yang ada.
SEKARANG
(Terlahir Kembali)
Seperti halnya bangsa
Indonesia, PT DjakartaLloyd (Persero) pun telah mengalami pasang surut bersama
- sama, tepatnya 4 tahun PT Djakarta lloyd (Persero) berhenti operasi setelah
mengalami kerugian dan hampir dinyatakan pailit.
Sampai saat ini PT Djakarta
Lloyd (Persero) masih berstatus BUMN meskipun akibat putusan Homologasi PKPU
dan Dengan keluarnya PP Nomor 126 Tahun 2015 maka para kreditur memperoleh
sebagian besar saham, tetapi kepemilikan saham tersebut bersifat
sementara,tidak mempunyai hak suara dan hak memperoleh deviden.Terbitnya PP
Nomor 129 Tahun 2015 maka pemerintah kembali melakukan penambahan penyertaan
modal Negara Republik Indonesia ke dalam modal saham PT Djakarta Lloyd
(Persero) sehingga status perusahaan sampai saat ini adalah BUMN kembali.
Terlahir Kembali setelah melewati masa
sulitnya PT Djakarta lloyd (Persero) kini seperti perusahaan yang telah
terlahir kembali,PT Djakarta lloyd (Persero) telah berhasil melakukan
restrukturisasi keuangan dan pegawai serta mengubah fokus bisnisnya untuk
angkutan curah pada 2012. sebagai perusahaan yang baru PT Djakarta lloyd
(Persero) menawarkan beberapa keunggulan seperti harga yang kompetitif,
komitment, kecepatan / kelincahan dan keamanan.
Visi, Misi, DAN SEJARAHNYA PT. INDONESIA FERRY
Visi, Misi, DAN SEJARAHNYA PT. INDONESIA FERRY
Visi
Menjadi perusahaan jasa
pelabuhan dan penyeberangan yang terbaik dan terbesar di tingkat regional,
serta mampu memberikan nilai tambah bagi stakeholders
Misi
1. Menyediakan prasarana
pelabuhan dan sarana kapal penyeberangan yang tangguh sebagai pendukung dalam
sistem logistik nasional.
2. Memiliki standar
pelayanan internasional yang didukung oleh tenaga profesional dan manajemen
bisnis modern serta tata kelola perusahaan yang baik.
3. Menguasai pangsa pasar
nasional dan memperluas jaringan operasional sampai ke tingkat regional untuk
memaksimalkan pertumbuhan dan keuntungan.
4. Memaksimalkan peran
korporasi dan infrastruktur negara serta agen pembangunan.
Sejarah
Pada Tahun 1973, PT Indonesia Ferry (Persero) bernama Proyek ASD Ferry
(PASDF)[1] kemudian berubah menjadi
Perum ASDP pada tahun 1986 dan selanjutnya tahun 1993 menjadi PT ASDP (Persero). Beralihnya status Perum ASDP menjadi Perusahaan
Perseroan mengartikan bahwa pola usahanya diharapkan
mampu bersaing dengan perusahaan swasta maupun badan usaha negara lainnya tanpa
meninggalkan fungsinya sebagai penyedia penyeberangan perintis.
Pada tanggal 5 Agustus 2008, dengan disaksikan oleh Deputi Bidang Usaha Logistik dan
Pariwisata Kementerian BUMNdan Wakil Ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi, PT Indonesia Ferry (Persero) melakukan
penandatanganan Pakta Integritas yang menandai diberlakukannya perubahan
struktural perseroan dimulai dari perubahan nama dan logo dari "PT ASDP
Indonesia Ferry (Persero)" menjadi "PT Indonesia Ferry
(Persero)", redefinisi visi dan misi, penegasan usaha pokok, penciptaan
usaha penunjang, revitalisasi dan investasi alat produksi, restrukturisasi
total serta rencana strategis bisnis. Semua hal tersebut adalah bagian dari
pelaksanaan program transformasi bisnis yang diharapkan dapat mengubah posisi
PT Indonesia Ferry (Persero) menjadi BUMN yang dapat memberikan kontribusi bagi negara.
VISI, MISI DAN SEJARAH BERDIRINYA PERUSAHAAN SRIWIJAYA AIR
Visi dan Misi Perusahaan
Sriwijaya Air
1. Visi Perusahaan Sriwijaya Air
Perusahaan penerbangan yang eksis di
kawasan dornestik yang mengutamakan kualitas layanan, didukung oleh SDM yang
handal sehingga dapat menunjang pengembangan perusahaan dan kesejahteraan
karyawan.
2. Misi Perusahaan Sriwijaya Air
Berkomitmen dalam pembinaan dan
pengembangan SDM secara profesional untuk mencapai kualitas layanan yang
terbaik sesuai harapan penumpang.
Sejarah
Sriwijaya Air
PT Sriwijaya Air lahir
sebagai perusahaan swasta murni yang didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie,
Johannes Bunjamin, dan Andy Halim. Beberapa tenaga ahli yang turut menjadi
pionir berdirinya Sriwijaya Air diantaranya adalah Supardi, Capt. Kusnadi,
Capt. Adil W, Capt. Harwick L, Gabriella, Suwarsono dan Joko Widodo.
Sriwijaya Air didirikan
dengan tujuan untuk menyatukan seluruh kawasan Nusantara seperti keinginan raja
kerajaan Sriwijaya dahulu yang berasal dari kota Palembang. Keinginan tersebut kemudian diwujudkan
melalui pengembangan transportasi udara.
Pada tahun 2003, tepat pada
hari Pahlawan, 10 November, Sriwijaya Air memulai penerbangan perdananya dengan
menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi
PP, dan Jakarta-Pontianak PP.
Pada mulanya Sriwijaya Air
hanya mengoperasikan 1 armada Boeing 737-200 yang kemudian seiring waktu terus
ditambah hingga memiliki 15 armada Boeing 737-200. Sesuai dengan perkembangan
teknologi dan kebutuhan pemenuhan pelayanan publik yang lebih baik, Sriwijaya
Air kemudian menambah dan memperluas jangkauan penerbangannya dari Barat ke
Timur sekaligus menambah pesawat dengan seri yang lebih baru,yaitu Boeing 737-300,Boeing 737-400, Boeing 737-500W,dan Boeing
737-800NG.
Maskapai ini sempat memesan
20 unit Embraer 175 dan Embraer 195 pada Paris Airshow 2011,namun kemudian
pesanan ini dibatalkan dikarenakan alasan operasional, dan kemudian digantikan
oleh Boeing 737-500W. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa Sriwijaya Air akan
memesan Embraer kembali,yang akan dialokasikan ke anak perusahaannya, yaitu NAM
Air.
Pada Agustus 2007,
Sriwijaya Air mendapatkan penghargaan keselamatan penerbangan dari Boeing,
yaitu Boeing International Award for Safety and Maintenance of Aircraft,
diberikan setelah inspeksi dilakukan selama beberapa bulan oleh tim dari Boeing
Company.[1]
Pada 1 Agustus 2011,
Sriwijaya Air meluncurkan buku panduan berbahasa braille dan program khusus
untuk penanganan terhadap para Tuna Netra yang terbang dengan maskapai
tersebut. Para awak kabin telah dilatih secara khusus untuk menangani penumpang
yang memiliki kelemahan tersebut,diantaranya dengan cara pendekatan personal
dan dengan sentuhan fisik.[2]
Pada 16 Juni 2015 di Paris
Air Show 2015, Sriwijaya Air mengumumkan pemesanan pasti 2 unit 737-900ER dengan 20 unit 737 MAX 8 sebagai opsi yang akan diambil pada
masa depan. Pesanan ini merupakan pertama kalinya Sriwijaya Air memesan pesawat
yang benar-benar baru dan langsung dari pabriknya. Kedua 737-900ER milik
Sriwijaya Air telah tiba bersamaan pada 23 Agustus 2015.[3]
Pada Agustus 2015,
Sriwijaya Air kembali mendapatkan sertifikasi keselamatan penerbangan, yaitu
Basic Aviation Risk Standard(BARS) yang dilakukan oleh Flight Safety
Foundation, berbasis di Amerika Serikat.[4]
VISI, MISI, DAN SEJARAH BERDIRINYA PT. LION AIR
Visi :
menjadi perusahaan
penerbangan swasta nasional yang melayani penerbangan domestik dan
internasional dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip keselamatan dan keamanan
penerbangan yang telah ditetapkan lion air.
Misi:
menjadi perusahaan
penerbangan nasional inovatif, efisien dan profesional dalam menjangkau
beberapa kota yang ada di Indonesia sehingga akan lebih banyak pengguna yang
dapat terbang bersama armadalion air.
SEJARAH
Lion Air merupakan maskapai penerbangan
swasta nasional asal Indonesia yang secara hukum didirikan pada tanggal 15
November 1999 dan mulai beroperasi pertama kali pada tanggal 30 Juni 2000,
dengan melayani rute penerbangan dari Jakarta menuju Pontianak menggunakan
pesawat dengan tipe Boeing 737-200 yang pada saat itu berjumlah 2 unit.
Berkantor pusat di Lion Air Tower, Jl. Gajah
Mada No. 7 yang berada di kawasan Jakarta Pusat, PT. Lion Mentari Airlines atau
yang biasa dikenal dengan Lion Air merupakan maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low
Cost Carrier) dengan
mengusung slogan “We Make People Fly”. Melalui hal ini Lion Air
mencoba mewujudkan dan merubah stigma masyarakat bahwa siapapun bisa terbang
bersama Lion Air dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan
kualitas penerbangan.
Lima belas tahun lebih mengudara dan melayani
masyarakat, hingga saat ini Lion Air telah terbang ke 183 rute penerbangan yang
terbagi dalam rute domestik yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia dari
sabang sampai merauke, dan rute Internasional menuju sejumlah negara seperti,
Singapore, Malaysia, Saudi Arabia dan China. Jumlah rute tentunya akan terus
bertambah karena melihat pasar penerbangan di Indonesia yang terus berkembang
begitu pesat. Dengan kepemilikan pesawat sebanyak 112 armada yang terbagi dalam
beberapa tipe seperti Boeing 747-400, Boeing 737-800, Boeing 737-900 ER, dan
Airbus A330-300. Jumlah armada pun juga akan bertambah sesuai dengan pengiriman
pemesanan pesawat yang dilakukan oleh Lion Air.
Langganan:
Postingan (Atom)