Minggu, 11 Maret 2018

VISI, MISI DAN SEJARAH PT. DJAKARTA LLOYD (PERSERO)

VISI,  MISI DAN SEJARAH PT. DJAKARTA LLOYD (PERSERO)

"Menjadi Perusahaan Pelayaran dan Logistik yang Handal dan Terpercaya Untuk Membangun Ekonomi Nasional."

1.    Mengoptimalkan sinergi angkutan laut di lingkungan BUMN dan Swasta dengan cara mengoptimalkan cargo atas kontrak yang sudah dimiliki dan mencari pasar baru untuk memperoleh keuntungan yang cukup dalam masa transisi.
2.    Meningkatkan mutu pelayanan agar dapat meraih kepercayaan kembali.
3.    Menyelesaikan masalah ketenagakerjaan dan kreditur agar perusahaan dapat fokus berbisnis.
4.    Menjadi perusahaan yang kuat dan mampu memberikan kontribusi kepada Pertumbuhan Nasional.

Sejarah yang membanggakan
PT Djakarta Lloyd (Persero) didirikan pada tahun 1950 dengan nama NV Djakarta Lloyd atas prakarsa para pejuang kemerdekaan Angkatan Laut Pangkalan IV di Tegal.

Perubahan Status Perusahaan.  Pada tahun 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 108 tahun 1961 status Perusahaan berubah menjadi Perusahaan Negara dengan nama PN Djakarta Lloyd dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No : 20 Tahun 1974 tanggal 22 April 1974 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara “Djakarta Lloyd” menjadi Perusahaan (Persero).

·         AWALMULA
Dalam perjalanannya PT Djakarta Lloyd yang pada awalnya mengoperasikan 2 (dua) buah kapal uap yaitu SS Jakarta Raya 1952 dan SS Djatinegara 1952 terus berkembang hingga saat ini menjadi perusahaan pelayaran nasional yang melayani jalur pelayaran domestik dan internasional.



·         MASA GEMILANG
Pada Masa jayanya di era 1960an sedikitnya PT Djakarta lloyd (Persero) mengoperasikan 20 unit kapal dengan kantor cabang yang tersebar di 4 benua dengan 31 Kantor Cabang dan 3174 Pegawai.

·         IDE SEDERHANA YANG MENYALA
Gagasan perjuangan yang menjadi amanah para pendiri Djakarta lloyd adalah mewujudkan cita - cita kemerdekaan yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan keberanian dan pengalaman berlayar sejak awal Djakarta lloyd didirikan untuk menerobos dominasi asing dalam pelayaran barang niaga. Pada awal perjalanannya Djakarta lloyd merupakan aset strategis Bangsa Indonesia dalam hal kemandirian ekonomi dan ketahanan nasional, peran Djakarta lloyd adalah sebagai alat pemersatu bangsa dari berbagai pulau -pulau yang ada.

SEKARANG
(Terlahir Kembali)
Seperti halnya bangsa Indonesia, PT DjakartaLloyd (Persero) pun telah mengalami pasang surut bersama - sama, tepatnya 4 tahun PT Djakarta lloyd (Persero) berhenti operasi setelah mengalami kerugian dan hampir dinyatakan pailit.

Sampai saat ini PT Djakarta Lloyd (Persero) masih berstatus BUMN meskipun akibat putusan Homologasi PKPU  dan Dengan keluarnya PP Nomor 126 Tahun 2015 maka para kreditur memperoleh sebagian besar saham, tetapi kepemilikan saham tersebut bersifat sementara,tidak mempunyai hak suara dan hak memperoleh deviden.Terbitnya PP Nomor 129 Tahun 2015 maka pemerintah kembali melakukan penambahan penyertaan modal Negara Republik Indonesia ke dalam modal saham PT Djakarta Lloyd (Persero) sehingga status perusahaan sampai saat ini adalah BUMN kembali.

Terlahir Kembali setelah melewati masa sulitnya PT Djakarta lloyd (Persero) kini seperti perusahaan yang telah terlahir kembali,PT Djakarta lloyd (Persero) telah berhasil melakukan restrukturisasi keuangan dan pegawai serta mengubah fokus bisnisnya untuk angkutan curah pada 2012. sebagai perusahaan yang baru PT Djakarta lloyd (Persero) menawarkan beberapa keunggulan seperti harga yang kompetitif, komitment, kecepatan / kelincahan dan keamanan.


Visi, Misi, DAN SEJARAHNYA PT. INDONESIA FERRY

Visi, Misi, DAN SEJARAHNYA PT. INDONESIA FERRY

Visi
Menjadi perusahaan jasa pelabuhan dan penyeberangan yang terbaik dan terbesar di tingkat regional, serta mampu memberikan nilai tambah bagi stakeholders

Misi
1. Menyediakan prasarana pelabuhan dan sarana kapal penyeberangan yang tangguh sebagai pendukung dalam sistem logistik nasional.
2. Memiliki standar pelayanan internasional yang didukung oleh tenaga profesional dan manajemen bisnis modern serta tata kelola perusahaan yang baik.
3. Menguasai pangsa pasar nasional dan memperluas jaringan operasional sampai ke tingkat regional untuk memaksimalkan pertumbuhan dan keuntungan.
4. Memaksimalkan peran korporasi dan infrastruktur negara serta agen pembangunan.

Sejarah
Pada Tahun 1973, PT Indonesia Ferry (Persero) bernama Proyek ASD Ferry (PASDF)[1] kemudian berubah menjadi Perum ASDP pada tahun 1986 dan selanjutnya tahun 1993 menjadi PT ASDP (Persero). Beralihnya status Perum ASDP menjadi Perusahaan Perseroan mengartikan bahwa pola usahanya diharapkan mampu bersaing dengan perusahaan swasta maupun badan usaha negara lainnya tanpa meninggalkan fungsinya sebagai penyedia penyeberangan perintis.
Pada tanggal 5 Agustus 2008, dengan disaksikan oleh Deputi Bidang Usaha Logistik dan Pariwisata Kementerian BUMNdan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, PT Indonesia Ferry (Persero) melakukan penandatanganan Pakta Integritas yang menandai diberlakukannya perubahan struktural perseroan dimulai dari perubahan nama dan logo dari "PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)" menjadi "PT Indonesia Ferry (Persero)", redefinisi visi dan misi, penegasan usaha pokok, penciptaan usaha penunjang, revitalisasi dan investasi alat produksi, restrukturisasi total serta rencana strategis bisnis. Semua hal tersebut adalah bagian dari pelaksanaan program transformasi bisnis yang diharapkan dapat mengubah posisi PT Indonesia Ferry (Persero) menjadi BUMN yang dapat memberikan kontribusi bagi negara.


VISI, MISI DAN SEJARAH BERDIRINYA PERUSAHAAN SRIWIJAYA AIR

Visi dan Misi Perusahaan Sriwijaya Air
1. Visi Perusahaan Sriwijaya Air
Perusahaan penerbangan yang eksis di kawasan dornestik yang mengutamakan kualitas layanan, didukung oleh SDM yang handal sehingga dapat menunjang pengembangan perusahaan dan kesejahteraan karyawan.
2. Misi Perusahaan Sriwijaya Air
Berkomitmen dalam pembinaan dan pengembangan SDM secara profesional untuk mencapai kualitas layanan yang terbaik sesuai harapan penumpang.
Sejarah Sriwijaya Air
PT Sriwijaya Air lahir sebagai perusahaan swasta murni yang didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim. Beberapa tenaga ahli yang turut menjadi pionir berdirinya Sriwijaya Air diantaranya adalah Supardi, Capt. Kusnadi, Capt. Adil W, Capt. Harwick L, Gabriella, Suwarsono dan Joko Widodo.
Sriwijaya Air didirikan dengan tujuan untuk menyatukan seluruh kawasan Nusantara seperti keinginan raja kerajaan Sriwijaya dahulu yang berasal dari kota Palembang. Keinginan tersebut kemudian diwujudkan melalui pengembangan transportasi udara.
Pada tahun 2003, tepat pada hari Pahlawan, 10 November, Sriwijaya Air memulai penerbangan perdananya dengan menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.
Pada mulanya Sriwijaya Air hanya mengoperasikan 1 armada Boeing 737-200 yang kemudian seiring waktu terus ditambah hingga memiliki 15 armada Boeing 737-200. Sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pemenuhan pelayanan publik yang lebih baik, Sriwijaya Air kemudian menambah dan memperluas jangkauan penerbangannya dari Barat ke Timur sekaligus menambah pesawat dengan seri yang lebih baru,yaitu Boeing 737-300,Boeing 737-400, Boeing 737-500W,dan Boeing 737-800NG.
Maskapai ini sempat memesan 20 unit Embraer 175 dan Embraer 195 pada Paris Airshow 2011,namun kemudian pesanan ini dibatalkan dikarenakan alasan operasional, dan kemudian digantikan oleh Boeing 737-500W. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa Sriwijaya Air akan memesan Embraer kembali,yang akan dialokasikan ke anak perusahaannya, yaitu NAM Air.
Pada Agustus 2007, Sriwijaya Air mendapatkan penghargaan keselamatan penerbangan dari Boeing, yaitu Boeing International Award for Safety and Maintenance of Aircraft, diberikan setelah inspeksi dilakukan selama beberapa bulan oleh tim dari Boeing Company.[1]
Pada 1 Agustus 2011, Sriwijaya Air meluncurkan buku panduan berbahasa braille dan program khusus untuk penanganan terhadap para Tuna Netra yang terbang dengan maskapai tersebut. Para awak kabin telah dilatih secara khusus untuk menangani penumpang yang memiliki kelemahan tersebut,diantaranya dengan cara pendekatan personal dan dengan sentuhan fisik.[2]
Pada 16 Juni 2015 di Paris Air Show 2015, Sriwijaya Air mengumumkan pemesanan pasti 2 unit 737-900ER dengan 20 unit 737 MAX 8 sebagai opsi yang akan diambil pada masa depan. Pesanan ini merupakan pertama kalinya Sriwijaya Air memesan pesawat yang benar-benar baru dan langsung dari pabriknya. Kedua 737-900ER milik Sriwijaya Air telah tiba bersamaan pada 23 Agustus 2015.[3]
Pada Agustus 2015, Sriwijaya Air kembali mendapatkan sertifikasi keselamatan penerbangan, yaitu Basic Aviation Risk Standard(BARS) yang dilakukan oleh Flight Safety Foundation, berbasis di Amerika Serikat.[4]


VISI, MISI, DAN SEJARAH BERDIRINYA PT. LION AIR


Visi :
menjadi perusahaan penerbangan swasta nasional yang melayani penerbangan domestik dan internasional dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip keselamatan dan keamanan penerbangan yang telah ditetapkan lion air.

Misi: 
menjadi perusahaan penerbangan nasional inovatif, efisien dan profesional dalam menjangkau beberapa kota yang ada di Indonesia sehingga akan lebih banyak pengguna yang dapat terbang bersama armadalion air.


SEJARAH
Lion Air merupakan maskapai penerbangan swasta nasional asal Indonesia yang secara hukum didirikan pada tanggal 15 November 1999 dan mulai beroperasi pertama kali pada tanggal 30 Juni 2000, dengan melayani rute penerbangan dari Jakarta menuju Pontianak menggunakan pesawat dengan tipe Boeing 737-200 yang pada saat itu berjumlah 2 unit.
Berkantor pusat di Lion Air Tower, Jl. Gajah Mada No. 7 yang berada di kawasan Jakarta Pusat, PT. Lion Mentari Airlines atau yang biasa dikenal dengan Lion Air merupakan maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier) dengan mengusung slogan “We Make People Fly”. Melalui hal ini Lion Air mencoba mewujudkan dan merubah stigma masyarakat bahwa siapapun bisa terbang bersama Lion Air dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kualitas penerbangan.
Lima belas tahun lebih mengudara dan melayani masyarakat, hingga saat ini Lion Air telah terbang ke 183 rute penerbangan yang terbagi dalam rute domestik yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia dari sabang sampai merauke, dan rute Internasional menuju sejumlah negara seperti, Singapore, Malaysia, Saudi Arabia dan China. Jumlah rute tentunya akan terus bertambah karena melihat pasar penerbangan di Indonesia yang terus berkembang begitu pesat. Dengan kepemilikan pesawat sebanyak 112 armada yang terbagi dalam beberapa tipe seperti Boeing 747-400, Boeing 737-800, Boeing 737-900 ER, dan Airbus A330-300. Jumlah armada pun juga akan bertambah sesuai dengan pengiriman pemesanan pesawat yang dilakukan oleh Lion Air.